Rabu, 17 Agustus 2016

Aku juga Orang Indonesia

Namaku Noah, Noah Vanderveer. Aku berdarah campuran; ayahku orang Belanda dan ibuku asli Indonesia, aku memang lahir di Belanda tapi aku tumbuh di Indonesia dan tak pernah menganggap diriku orang Belanda atau bule, aku adalah orang Indonesia. Mungkin terdengar sedikit berlebihan, tapi faktanya aku lebih cinta Indonesia daripada tanah kelahiran ayahku, meskipun kewarganegaraanku ganda.

Dan karena wajah dan perawakanku yang sama persis dengan ayahku, aku selalu dipanggil "bule" dan jadi bahan bully karena lidahku yang sialnya juga ikut-ikutan ayahku. Tidak ada satu bagianpun dari tubuhku yang tampak "Indonesia" padahal ibuku asli Indonesia.

Yang paling menyakitkan adalah ketika mereka memanggilku penjajah atau orang Belanda tak tahu diri dengan tatapan penuh benci dan jijik. Tapi biarlah, aku tak pernah ambil pusing. Mau orang memanggilku apa, meledekku bagaimana, aku tak peduli. Aku orang Indonesia.

Diantara banyak hal yang kusuka dari tanah airku ini, bahasa Indonesia adalah yang paling kusuka. Bahasanya simpel dan sederhana, tapi sopan dan bersahaja. Tapi itu mungkin karena aku suka membaca cerita rakyat dsn sejarah Indonesia pada jaman kerajaan. Nilai pelajaran Bahasa Indonesiaku tak pernah kurang dari 9. Banyak yang memuji, tapi tak sedikit pula yang menghina, karena, yah, aku "bule".

Selain itu ada satu momen yang paling kusuka yaitu peringatan hari Kemerdekaan, tanggal 17 Agustus. Pasti akan ada banyak lomba-lomba menarik dan malamnya akan ada layar tancap yang memutar film-film kemerdekaan di mana para tentara dan rakyat Indonesia berjuang melawan kolonial Belanda.

Sejak kecil aku selalu ingin ikut serta dalam semua perlombaan itu, tapi nasib jadi "penjajah", orang Belanda sepertiku ini mana mungkin diperbolehkan ikut. Bahkan pernah aku diusir secara kasar oleh panitia penyelenggara perlombaan. Akhirnya setelah beberapa kali ditolak dan diusir aku tak pernah lagi meminta ikut berlomba. Tapi secara diam-diam aku menontot, bersembunyi di semak-semak yang agak jauh dari keramaian.

Bagaimana dengan ibuku? Tentu saja beliau awalnya marah kepada warga yang tega melarang dan bahkan mengusirku, tapi ayah bilang tak ada gunanya marah dan protes, dan kupikir juga begitu. Akhirnya merekapun melarangku pergi karena pasti akan diusir juga.

Memang itu dulu, sekarang lebih banyak orang berpikiran terbuka. Tapi tetap saja masih ada orang skeptis yang berpikiran sempit, dan ruang gerakku juga masih terbatas.

Sekarang sudah dekat bulan Agustus dan seperti tahun-tahun sebelumnya, di setiap SMA di seluruh indonesia diadakan seleksi untuk menjadi anggota pasukan pengibar bendera pusaka. Sejak kecil aku selalu terpukau melihat PASKIBRAKA beraksi, dan sepertinya aku sedikit terobsesi untuk menjadi salah satu anggotanya.

Jadi saat ini aku sedang berbaris bersama 44 teman seangkatanku untuk melakukan uji coba. Bisa ditebak, semua mata menatapku heran dan terkejut. Mungkin mereka berpikir sakit apa bule satu ini.

Belum sempat kami melakukan gerakan apapun, salah seorang anggota PASKIBRA tingkat kodya yang menjadi penguji kami segera melesat ke arahku dan menarikku keluar barisan.

"Kamu nggak boleh ikut," ucapnya datar.

"Loh, kenapa? Ini terbuka untuk umum kan? Untuk kelas XI kan?" seruju protes.

"Anggota PASKIBRAKA harus orang Indonesia, kamu bukan," jawabnya sambil berlalu pergi.

"SAYA JUGA ORANG INDONESIA! SAYA BESAR DI INDONESIA! SAYA CINTA INDONESIA!" teriakku kencang membuat orang itu berhenti dan menoleh, diikuti puluhan kepala yang lain.

"IBU SAYA ORANG INDONESIA! BAHASA INDONESIA SAYA JAUH LEBIH BAIK DARI KALIAN SEMUA YANG MENGAKU ORANG INDONESIA!"

Nafasku tersengal dan kepalaku berdenyut keras, kedua mataku panas dan mulai basah, "DALAM TUBUH SAYA JUGA MENGALIR DARAH ASLI INDONESIA! APA HAK KALIAN MELARANG DAN SEENAKNYA MENGATAKAN SAYA BUKAN ORANG INDONESIA?! KALIAN BUKAN TUHAN!"

Detik berikutnya kurasakan kepalaku dihantam sesuatu yang keras,terdengar bunyi krak keras dan rasa sakit yang mengejutkan dan membutakan menyerangku. Lalu semuanya gelap.

...

Entah berapa lama aku tertidur, tapi saat kucoba kubuka kedua mataku rasanya berat sekali. Dan begitu bisa kubuka, seketika kurasakan sakit di hidung, pelipis, dan punggung kepalaku. Semua yang bisa kulihat berwarna putih, rumah sakit. Lalu kudengar seseorang berteriak dan beberapa orang mengerumuniku.

Ada ayah dan ibuku, tampak sedih dan layu, bediri di samping seorang dokter muda yang sangat cantik. Sang dokter kemudian memeriksa keadaanku, melakukan beberapa tes ringan dan meninggalkan ruanganku saat dia yakin aku sudsh stabil.

Ayah dan ibuku tak berkata apa-apa. Mereka hanya duduk di samoing ranjangku, masih dengan tatapan sedih mereka. Aku tak ingin mereka bersedih, sejak kecil yang kuberikan kepada mereka hanya ini, aku ingin mereka melihatku dengan senyum bangga, bukan tangisan tertahan dan tatapan sedih yang penuh belas kasihan.

"Ke-napa...?" kataku dengan suara serak dan terbata, seketika tenggorokanku terasa seperti tersengat, sakit sekali. Tapi tetap kulanjutkan berbicara, "Kenapa...selalu seperti...ini? Aku...aku juga...orang Indonesia, ya kan Bu?"

Ibuku mengangguk keras dan air matanya meluncur deras.

Ya, aku juga orang Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesiaku tercinta...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.