Kamis, 18 Agustus 2016

Kakek dan Sepeda Tua


Belasan tahun yang lalu, saat aku masih belum bisa mengeja, kakek sering datang ke rumahku dengan mengendarai sepeda tuanya. Hampir setiap pagi beliau datang dan sarapan di rumahku.

Masih teringat jelas bagaimana cara beliau makan, bisa dibilang unik. Kedua kakinya dinaikkan ke kursi, kaki kanannya naik dan tangan kanannya ditumpukan ke lutut. Dengan tangan kirinya beliau memasukkan makanan; caranya menggenggam sendok pun berbeda dari orang lain.

Aku selalu mengagumi kakek. Selain karena beliau dikenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani, bahkan aku yang masih kecilpun bisa merasakan kharisma beliau. Aku juga kagum dengan kepribadian beliau yang bersahaja.

Kakek adalah orang yang sederhana, tapi juga berkelas. Beliau bukanlah orang yang boros tapi mempunyai selera yang cukup tinggi. Bisa dilihat dari pakaian dan parfum yang dimilikinya. Bicara soal parfum, satu hal yang menjadi kebiasaan beliau adalah setiap hari Jumat beliau memakai parfum mahal yang baunya bisa dicium bermeter-meter jauhnya.

Saat-saat paling menyenangkan adalah ketika lebaran. Semua anak cucu kakek akan berkumpul di rumah beliau, bahkan yang tempat tinggalnya cukup jauh pun datang. Aku selalu menantikan hari itu tiba.

Kakek mulai jarang datang ke rumah saat aku mulai masuk smp. Seminggu sekali ketemu pun tak mesti, biasanya aku bertemu beliau saat sholat Jumat, atau saat ibu menyuruhku mengantar makanan untuk beliau. Sejak itu juga aku hampir tak pernah lagi melihat kakek mengendarai sepeda tuanya, sepeda itu terbengkalai di dapur rumah beliau tanpa ada yang mengurusnya.

Kami makin jarang bertemu saat aku masuk sma karena harus masuk ke pesantren yang tempatnya sangat jauh. Hanya setahun sekali bisa bertemu yaitu ketika lebaran. Aku rindu kakek dan sepeda tuanya.

Setelah lulus sma kondisi kakek makin melemah. Beliau jadi makin sering sakit, dan yang membuatku sedih kakek mulai pikun. Dia sering lupa namaku atau menanyakan apakah aku baru sampai padahal sudah berjam-jam aku di rumah beliau. Sungguh menyedihkan dan menyakitkan melihat kondisi beliau makin memburuk setiap harinya.

Hingga akhirnya Tuhan pun memanggil beliau. Itu adalah salah satu momen paling menyakitkan dalam hidupku. Kesedihanku pun bertambah saat melihat ibuku terisak tanpa suara di teras rumah kakek.

Sejak wafatnya kakek, tanpa sadar aku mulai meniru kebiasaan beliau, setiap kali makan aku selalu ingat saat-saat sarapan bersama beliau, sehingga aku mulai meniru cara beliau makan. Hanya memori samar masa kanak-kanakku yang menjadi peninggalan kakek untukku. Setiap saat aku berusaha selalu mengingat beliau tanpa lupa mengirim doa. Kakek, semoga engkau tahu aku sangat merindukanmu, semoga kakek mendapatkan tempat yang istimewa di alam sana. Amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.