Kamis, 18 Agustus 2016

Kerupuk dan Senyuman


Seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun berjalan penuh semangat memasuki gang demi gang lingkungan perumahan yang cukup ramai. Peluh membasahi tubuhnya sementara perutnya menjerit karena belum diisi apapun sejak pagi, padahal matahari sudah semakin miring. Tapi raut mukanya tegas dan tak memelas. 

Kedua tangannya menjinjing plastik-plastik berisi kerupuk khas daerah kelahirannya, kerupuk melarat namanya. Dari rumah ke rumah dia meneriakkan barang dagangannya dengan lantang. Tersenyum ramah tiap kali berpapasan dengan siapapun dan dengan sopan menawarkan kerupuknya.

Tiap hari, dari pagi hingga sore, anak sekecil itu harus berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk menyambung hidup, agar bisa menyambut matahari tiap pagi. Anak yang seharusnya menikmati hari tanpa beban selain belajar dan bermain, justru menghabiskan hari dengan berkeliling dari rumah ke rumah untuk berdagang.

Tapi si anak yang sejak balita sudah diajarkan tentang kesabaran dan keikhlasan dalam hidup, tak pernah sekalipun mengeluh. Dia tak punya waktu untuk hal sepele seperti itu. Sebaliknya, wajah lelahnya tak pernah kehilangan senyum hangat yang penuh semangat. Dia selalu ingat perkataan ayahnya bahwa senyum adalah sebuah ibadah ibadah kecil yang luar biasa, senyum adalah sedekah paling ringan yang bisa menghangatkan hati bahkan orang asing sekalipun. Dan meski kemiskinan selalu menjerat keluarganya, dia tahu bahwa Tuhan takkan memberikan cobaan di luar kemampuan kaumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.