Rabu, 09 Desember 2009

The Assassins

Pria bermantel hitam itu memasuki cafe dengan tenang. Kerah mantelnya yang tinggi menutupi sebagian wajahnya, tapi kedua mata hitamnya yang tajam dapat terlihat dengan jelas. Dia tak melepas mantelnya yang panjangnya sampai ke mata kaki itu saat seorang resepsionis pria memintanya dengan senyum sopan.

Cafe itu ramai, penuh pengunjung dari berbagai ras dan usia; manusia, penyihir dan kurcaci, semuanya asyik bercengkerama dan tertawa terbahak-bahak sambil minum diiringi musik keras dari band yang berada di ujung ruangan, tepat berhadapan dengan pintu masuk. Beberapa orang duduk di depan meja bar, menikmati minuman yang disajikan seorang bartender tua yang rambutnya penuh uban.

Empat puluh satu orang, semuanya lengkap, batin si pria bermantel hitam.


Begitu melewati meja resepsionis pria itu menghentikan langkahnya dan membuka resleting mantelnya. Sambil menyeringai dia berkata dengan tenang tapi cukup keras, "Ada pesan untuk kalian semua."

Sambil berkata begitu dia mengeluarkan dua bilah pedang panjang yang tergantung di kedua pinggangnya. Kedua pedang itu lebarnya cuma dua inci dan bermata dua. Yang membuatnya tampak unik, keseluruhan pedang itu berwarna hitam, sama persis dengan warna bola mata si pria yang menggenggamnya.

Begitu si pria mengeluarkan kedua pedang hitam itu, semua orang mendadak menghentikan aktifitas mereka. Dan seperti dikomando mereka semua mengeluarkan senjata masing-masing; tongkat sihir, pedang dan golok besar, kapak bermata lebar dan senjata api berbagai bentuk dan ukuran. Semua orang kecuali para pegawai cafe yang langsung menghilang entah ke mana.

Melihat ancaman di sekelilingnya, si pria bermantel hitam justru menyeringai dan dengan santai dia menutup kembali resleting mantelnya. Lalu dengan satu hentakan keras pria itu mendorong tubuhnya melesat dengan sangat cepat, bersamaan dengan itu semua orang mulai menyerang.

Suara letusan senjata api, ledakan-ledakan mantera yang menghantam semua sisi ruangan dan denting keras logam yang saling beradu memenuhi cafe kecil itu. Si pria bermantel hitam tampak santai mengayunkan kedua pedangnya dengan sangat cepat sampai tak terlihat.
Sambil terus menghindari dan menangkis serangan yang datang bertubi-tubi, pria itu, dengan ekspresi tenang dan seringai di wajahnya, menghabisi semua musuhnya satu per satu. Gerakan tubuhnya tampak ringan dan luwes namun sangat cepat, seolah sedang menarikan tarian kematian yang indah.

Dalam beberapa menit saja semua orang yang ada di tempat itu sudah tumbang. Darah berceceran mengotori seluruh dinding dan lantai yang hancur, potongan-potongan tubuh berserakan di mana-mana, tak ada seorang pun yang selamat selain para pegawai cafe dan pria bermantel hitam yang berdiri tegak dengan seringai kemenangan di wajahnya.

"Aku baru mau mengatakan, kalian dapat salam dari penghuni neraka," kata pria itu ringan.

Tiba-tiba dari udara kosong muncul sesosok makhluk berjubah putih bertudung tepat di hadapan pria bermantel hitam. Kedua kaki dan tangannya tersembunyi di dalam jubahnya yang panjang, bahkan wajahnya tak terlihat karena bayangan kerudung jubahnya.

Si pria bermantel hitam berlutut dan berkata, "Tugas telah terlaksana, Yang Mulia Azazel. Para perampok dan buronan di kota ini sudah ku bersihkan."


Bookmark and Share


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.