Rabu, 04 November 2009

Zerb, Penyihir Cilik dari Ras Artan

Zerb tersentak bangun dari tidurnya. Seketika itu juga dia mengangkat tubuhnya dan duduk sambil mengatur napasnya yang tersengal.

Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Mimpi barusan terasa begitu nyata. Walaupun entah sudah berapa ratus kali dia mengalami mimpi yang sama, tapi rasanya kali ini berbeda. Seolah-olah dia benar-benar mengulang kembali kejadian paling mengerikan dalam hidupnya itu.

Kejadian di mana kedua orang tuanya dibunuh dengan begitu sadis oleh tiga orang penyihir dari ras Wandius, tepat di hadapannya hampir enam tahun yang lalu.

Tanpa Zerb sadari, air matanya telah meleleh dan menetes-netes di atas selimut hijau tuanya, tubuhnya bergetar karena rasa sedih, dendam dan takut yang telah mendekam sekian lama.

"Tak lama lagi usiamu tiga belas tahun dan kau masih menangis seperti bocah."



Zerb tersentak dan buru-buru mengusap air matanya dengan punggung telapak tangannya.

"Ah, kakek, aku ini baru dua belas tahun. Di luar sana aku masih dianggap anak-anak," sahut Zerb sambil mendekati kakeknya yang berdiri di ambang pintu.

Kakek tua berambut kelabu yang penuh uban itu menjitak kepala Zerb dengan tongkatnya, "Anak bodoh! Kamu ini Bangsa Artan, tiga belas tahun berarti usia pematangan dan peningkatan level sihir!" bentaknya marah.

Zerb mendengus, "Iya, iya, aku tahu itu. Tapi tak perlu memukul, kan?"

Si kakek menggelengkan kepala sambil membalikkan badannya, "Cepat ambil tongkatmu, kita lanjutkan latihanmu."

Zerb segera mengambil sebuah tongkat kayu sepanjang satu setengah meter yang berdiri di sudut ruangan dan menyusul kakeknya keluar.

Kakek tua berjubah biru gelap itu sudah menunggu Zerb dalam posisi siap bertarung, kedua tangannya menggenggam gagang tongkatnya yang setinggi dadanya. Zerb juga langsung ambil posisi, dia berdiri berhadapan dengan si kakek dalam jarak lima meter dan menggenggam erat tongkatnya dengan tangan kanannya.

Tanpa basa-basi, kakek Gordon mulai menyerang. Dia mengalirkan mana ke tongkatnya, cahaya kebiruan mengalir dari telapak tangannya dan melingkupi seluruh bagian tongkatnya. Tak mau kalah, Zerb melakukan hal yang sama.

Setelah tongkatnya berpendar biru, dengan gesit kakek Gordon memutar tubuhnya sambil menggambar sebuah lingkaran di atas tanah dengan ujung tongkatnya lalu menggambar sebuah segel sihir d dalam lingkaran itu. Dan seperti sebelumnya, Zerb melakukan hal serupa hampir bersamaan dengan kakeknya.

Lalu keduanya mengetukkan tongkat mereka di atas segel yang telah mereka gambar. Dari segel kakek Gordon muncul nyala api yang cukup besar, berputar satu kali mengitarinya sebelum akhirnya melesat dengan sangat cepat ke arah Zerb.

Zerb tampak tenang-tenang saja, dari tepi segel sihirnya muncul air yang berputar-putar dan naik membentuk dinding air yang tebal dan menahan serangan api kakek Gordon. Lalu dengan gerakan yang cepat tapi sangat luwes, dia menggambar sebuah segel lagi dan mengetukkan tongkatnya sekali lagi. Dinding airnya runtuh, tapi airnya yang jatuh melayang di udara dan berubah menjadi paku-aku es yang sangat banyak, dengan satu ketukan lagi Zerb mengirim paku-paku es itu untuk menyerang kakeknya.

Tapi sebelum ratusan paku es itu mengenai kakek Gordon, tiba-tiba tanah di hadapan kakek tua itu terangkat ke atas dengan sangat cepat, memunculkan sebuah dinding tanah yang tebal yang menghalau serangan paku-paku es itu. Terdengar bunyi gemerincing yang cukup keras saat paku-paku es itu menghantam dinding tanah dan hancur

Keduanya menghentikan serangan. Zerb melihat kakeknya tersenyum sambil mendekatinya, "Kecepatan dan kekuatan seranganmu sudah semakin baik. Kirasa kau sudah siap untuk ritual pendewasaanmu."

___________________________________________________________________________________

Zerb duduk bersila di tengah-tengah sebuah segel sihir berdiameter tujuh meter, tongkat sihirnya yang bergagang bulat berdiri tegak di hadapannya tanpa penyangga. Kedua matanya terpejam sementara garis-garis segel rumit yang memenuhi lingkaran sihir itu berpendar biru, tampak terang di dalam gua yang gelap itu.

Tapi bukan hanya garis-garis segel itu saja yang tampak bercahaya di dalam gua itu, tubuh Zerb tampak bermandikan cahaya keemasan. Tepat di atas kepalanya terdapat sebuah lubang yang cukup lebar yang menembus atap gua dan dari lubang itu sinar bulan purnama yang berada tepat di atasnya menerobos masuk.

Sekitar satu kaki di luar lingkaran segel, kakek Gordon duduk bersila menghadap cucunya. Tongkat sihirnya tergeletak di sampingnya dan di hadapannya ada sebuah kitab tua yang tampak lapuk dan usang terbuka. Mulutnya menggumam pelan membaca mantera panjang yang tertulis di dalam kitab tua itu.

Inilah satu-satunya sihir dari Ras Artan yang menggunakan mantera, Ritual Esiar.

Ritual Esiar adalah ritual peningkatan level sihir dalam Ras Artan. Usia tiga belas tahun berarti peningkatan dari level nol ke level satu, lalu empat belas tahun kemudian naik lagi ke level dua. Dan seterusnya, ditambah satu tahun dari selang waktu pada ritual sebelumnya, tanpa ada batas.

Sebenarnya ritual ini hanya untuk meningkatkan kuantitas dan kekuatan mana sehingga dapat melakukan sihir yang levelnya lebih tinggi dan lebih tahan lama. Soal kecakapan dan kecepatan, semua tergantung masing-masing orangnya, ritual ini sama sekali tak berpengaruh terhadap hal tersebut.

Sementara kakek Gordon terus menggumam membaca mantera, nyala cahaya pada garis-garis segel berubah dari biru menjadi kuning kemudian merah. Dan setiap kali terjadi perubahan warna, Zerb merasakan udara di sekitarnya menjadi semakin panas, hingga akhirnya dia merasakan hawa panas membakar di seluruh tubuhnya, luar dan dalam. Awalnya remaja berambut gelap itu hanya membelalak terkejut, tapi kemudian dia menjerit keras sekali. Jeritannya menggema menggetarkan dinding batu gua, semakin lama semakin keras, lalu kemudian berhenti secara tiba-tiba.

Begitu suara jeritan Zerb lenyap, yang disusul dengan terkulainya kepala remaja bermata biru itu, cahaya merah pada garis-garis segel pun ikut lenyap. Sesaat sebelumnya kakek Gordon berhenti membaca mantera dan menutup kitab tuanya. Lalu kakek tua itu berdiri dan merapikan rambut kelabu panjangnya sebelum berjalan mendekati cucunya. Ah, sempat-sempatnya orang tua itu melakukan hal seperti itu.

Dengan tangannya yang kurus dan keriput kakek Gordon merebahkan tubuh Zerb yang tak sadarkan diri. Dari saku jubahnya dikeluarkannya sebuah tabung kaca kecil berisi ramuan Helio dan meminumkan ramuan berwarna merah itu ke mulut cucunya.

"Syukurlah ritual ini berjalan lancar," gumam kakek Gordon lega.

Tapi raut mukanya tampak murung. Dia merasa sedih melihat nasib cucu tunggalnya itu; seharusnya ritual ini dilakukan oleh seorang ayah, bukan seorang kakek. Walaupun prosesnya berjalan lancar, tapi entah bagaimana hasilnya nanti. Dalam hati kakek Gordon berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan cucunya.


nb: ramuan Helio adalah ramuan penyembuh, efek sebenarnya adalah mengembalikan kondisi tubuh dalam keadaan prima seratus persen.

 _____________________________________________________________________________________________

 Zerb termenung di ambang pintu belakang rumahnya, menatap kosong halaman belakangnya yang tak terurus. Sudah beberapa hari ini dia tidak merawat dan membersihkannya, kerjaannya hanya melamun dan melamun saja. Dia sudah kehilangan semangat hidup, satu-satunya tongkat penyangga hidupnya telah lenyap, satu-satunya orang yang menjadi alasannya tetap bertahan telah meninggalkannya untuk selamanya, menyusul kedua orang tuanya.

Dia takkan lupa hari itu, hari di mana sekali lagi dia melihat orang yang sangat berarti dalam hidupnya mati di tangan penyihir Ras Wandius. Hari di mana kakeknya pergi meninggalkannya untuk selamanya.

Hari itu adalah hari ketujuh setelah ritual Esiar. Kakek Gordon, setelah mempertimbangkan matang-matang, memutuskan untuk meneruskan apa yang dilakukan kedua orang tua Zerb sebelum meninggal dunia; meneliti misteri legenda burung Aura Flamez.

Saat Zerb masih berumur lima tahun, kedua orang tuanya menemukan sebuah situs tersembunyi di tepi hutan Narakan. Menurut kakek Gordon, situs itu menyimpan rahasia kuno Fairyzard. Bukan hanya tentang legenda burung Aura Flamez, tapi juga tentang sang naga pembawa bencana, naga Hellberth.

Pada hari itu kakek Gordon mengajaknya pergi ke situs tersembunyi tersebut. Tempatnya cukup jauh, di selatan, wilayah yang cukup cerah dan kering. Tepatnya di selatan Aqualandya, setelah melewati pedesaan aneh yang tiap rumah jaraknya sekitar seperempat mil lalu melewati pegunungan Abiadh yang tandus tapi indah, bukan tempat yang mudah dicapai.

Zerb baru pertama kali melihat tempat seperti itu, pegunungan Abiadh, wilayah itu sama sekali tak ditumbuhi sebatang pohon pun, bahkan rerumputan pun tak ada, seluruh lembah dan puncak gunungnya berupa bebatuan kasar dan keras. Dan sesuai namanya, tiap puncak gunungnya berkilauan putih cemerlang, karena batu di puncak-puncak gunung itu adalah batu kristal Abiadh. Meskipun tandus dan kering, siapapun akan mengatakan kalau tempat itu juga indah, kilauan sinar yang dipantulkan kristal Abiadh begitu memesona, terlebih lagi, katanya, kalau dilihat saat matahari terbit. Tapi Zerb tak sempat menyaksikan keindahan puncak-puncak pegunungan itu saat matahari terbit karena dia dan kakeknya tiba di wilayah itu setelah matahari naik dan sudah keluar dari situ beberapa jam setelah matahari terbenam. Tampaknya kakek tua itu agak terburu-buru, pikir Zerb.

Lalu, tepat di tepi hutan Narakan, yang tampak sangat mengerikan dengan pepohonan lebat yang begitu tinggi dan besar, kakek Gordon meraba-raba permukaan tanah yang berumput tipis dengan tongkatnya yang sudah dialiri mana. Zerb masih tak bisa melupakan perasaan ngeri saat berada di tepi hutan itu, di malam hari tanpa cahaya bulan dengan sedikit bintang, dia merasa pepohonan raksasa itu sedang mengawasi dia dan kakeknya dan siap menghancurkan mereka berdua jika menginjakkan kaki di wilayah hutan itu.

Setelah beberapa saat meraba, kakek Gordon tiba-tiba menghentikan tongkatnya dan tersenyum, "Ini tempatnya," seru kakek itu penuh semangat. Lalu dia membuat sebuah lingkaran mengitari titik di mana tongkatnya berhenti dan menggambar sebuah segel di dalamnya, segel rumit yang sama sekali tak bisa diingat Zerb.

Sebelum kakek Gordon mengetukkan tongkatnya, dia menyayat telapak tangan kirinya dengan sebuah belati dan membiarkan darahnya menetes di atas segel yang dibuatnya.

"Kakek!" seru Zerb terkejut. Tapi kakek Gordon justru tersenyum, "Tak apa-apa, cuma sedikit, kok," katanya santai.

Lalu, dengan heran Zerb melihat tetesan-tetesan darah itu bergerak mengalir ke seluruh garis-garis segel. Dan setelah semua garis segel dipenuhi darah, barulah kakek Gordon mengetukkan tongkatnya.

Mendadak bumi bergetar dan tiba-tiba tanah di mana segel itu berada melesak ke bawah begitu saja, meninggalkan lubang berdiameter tiga meter sedalam lutut orang dewasa. Lalu tanah yang ambles itu terbelah dua dan tiap belahan lenyap ke tepi, memperlihatkan sebuah tangga batu yang sangat curam.

 "I,,, itu, itu yang namanya 'Kuil Dewa Iblis', ya?" kata Zerb takjub.

"Itu baru pintu masuknya saja, anak bodoh," kata kakek Gordon sambil memukul tulang tempurung cucunya, "Kuilnya masih jauh di bawah sana. Kau jangan ketakutan, ya?" ledek si kakek tua.

Zerb mengelus kepalanya dan menatap kakeknya kesal, "Takut? Masa' masuk ke ruang bawah tanah saja takut, biar begini aku sudah level satu, kan?"

"Bocah sombong, teknikmu masih belum sempurna, kau masih harus banyak belajar," ujar kakek Gordon sambil melangkahkan kakinya menuruni tangga batu, "Lagipula, segel yang kau kuasai masih sedikit, belum ada apa-apanya, bahkan dibandingkan dengan rata-rata penyihir seusiamu dari ras kita sendiri."

Zerb tidak menyahuti omongan kakeknya dan hanya mengikuti dari belakang dalam diam. Setelah beberapa langkah kakek Gordon menyalakan 'Pemantik Cahaya'-nya, sebuah benda perak berbentuk silinder, dan sebuah bola cahaya sebesar kepalan tangan orang dewasa muncul dan melayang di atas kepalanya, mengikuti mereka berdua sambil memancarkan sinar keemasan yang sangat terang.

Tangga batu itu terus menurun dengan curam tanpa ada belokan sama sekali. Zerb merasa sedikit kecewa karena tak melihat satupun simbol atau huruf kuno pada dinding dan langit-langit gua yang anehnya tampak begitu bersih dan halus. Kekecewaannya berubah menjadi kesal saat mendapati tangga batu itu tidak habis-habis, entah sudah berapa lama mereka berjalan menuruninya. Tapi saat mulutnya terbuka untuk meneriakkan keluhan dan protes, tangga batu itu lenyap begitu saja.

Dan tiba-tiba saja mereka sidah berada di sebuah aula yang luas dengan langit-langit tinggi dan lantai marmer hetam yang dinginnya bahkan menembus sepatu kulit rusa. Tapi lagi-lagi Zerb kecewa karena dinding aula itu sama sekali kosong, hanya berupa batu datar berwarna kecokelatan.

Suara langkah kaki mereka bergema keras saat merela menyeberangi aula itu. Lalu tiba-tiba saja kegembiraan Zerb muncul saat mereka sampai di dinding seberang. Di hadapan mereka berdiri gagah pintu besi lengkung raksasa yang memiliki dua warna., atau seperti itulah yang pertama kali terpikirkan oleh Zerb.

Tapi itu bukan pintu besi, pintu lengkung itu lebih indah dan kokoh dari besi maupun baja terkuat, tak ada senjata yang mampu menghancurkannya karena pintu itu adalah pintu kristal, dan bukan sembarang kristal. Sisi kiri terbuat dari kristal Abiadh yang putih cemerlang sedangkan sisi lainnya terbuat dari kristal Asod yang hitam mengkilat. Pada daun pintu yang putih terdapat relief besar burung Aura Flamez dan pada daun pintu yang hitam terdapat relief naga Hellberth yang sama besar, tampak gagah berkilauan tertimpa sinar keemasan dari bola cagaya yang kini melayang di atas aula. Seluruh permukaan pintu, kecuali lingkaran di mana relief berada, dipenuhi ukiran dalam garis-garis berpola yang menurut Zerb tampak seperti segel sihir. Sementara ambang pintunya yang tebalnya hampir dua kaki yang terbuat dari kristal yang sama dengan daun pintunya, dipenuhi simbol dan gambar-gambar aneh yang sama sekali tak dikenal Zerb.

"Sekarang letakkan telapak tangan kananmu di situ," ujar kakek Gordon sambil menunjuk sebuah cekungan lingkaran tepat di bawah relief naga Hellbert. Cekungan itu sejajar dengan dagu Zerb dan terhubung dengan semua garis segel yang memenuhi pintu. Tanpa bertanya Zerb melakukan perintah kakeknya, sementara kakek itu meletakkan telapak tangan kirinya di cekungan di bawah relief burung Aura Flamez, "Dalam hitungan ketiga, alirkan mana ke pintu, mengerti?"

Zerb megangguk patuh dan mulai mengonsentrasikan mana yang mengalir di seluruh tubuhnya ke telapak tangannya. Dia bisa mendengar kakeknya menarik napas dalam satu kali sebelum mulai menghitung, "Satu, dua, tiga!"

Tepat saat terdengar kata terakhir Zerb melepaskan gumpalan mana yang tadi dikumpulkannya di telapak tangan, melihat telapak tangan itu berpendar biru sesaat sebelum cahaya itu berpindah memenuhi bidang cekung lingkaran dan mulai menyebar ke seluruh garis segel yang terhubung dengannya. Dia melirik dan mendapati hal yang serupa terjadi pada daun pintu di sebelahnya.

Dua zat berpendar biru, bukan benda cair, gas apalagi padat, mengalir sepanjang garis-garis segel meliuk-liuk bagai ular, tidak cepat ataupun lambat, hingga akgirnya dua aliran mana itu bertemu tepat di bagian tengah pintu, benar-benar di tengahnya. Lalu terdengar suara dentuman beberapa kali, yang terdengar seolah dari tempat yang sangat jauh, dan tiba-tiba pintu menjeblak terbuka, tanpa bunyi apapun seperti yang Zerb bayangkan, tidak terlalu cepat tapi sangat pasti. Dan saat pintu itu benar-benar terbuka sepenuhnya, hal pertama yang menarik perhatian Zerb adalah patung burung Aura Flamez dan naga Hellberth yang berada di ujung ruangan.

Kedua patung itu sangat tinggi, kira-kira sepuluh meteran, dan juga besar. Saling berhadapan, terpisah oleh sebuah altar batu berbentuk persegi yang cukup lebar. Patung burung Aura Flamez berwarna emas, atau memang terbuat dari emas, dengan sayap gagah terentang lebar dan tujuh helai ekor panjang yang meliuk indah. Sementara patung naga Hellberth berwarna merah darah, dengan tiga tanduk tajam di atas kepalanya dan sayap kulit yang terentang, tampak penuh ancaman dan bahaya.

"Dewa dan Iblis, burung Aura Flame dan naga Hellberth," gumam kakek Gordon.

Zerb terpana melihat pemandangan di dalam kuil itu, selain kedua patung menakjubkan itu yang menarik perhatiannya adalah ukiran-ukiran simbol dan huruf kuno yang memenuhi seluruh permukaan dindingnya. Dia mendengar kakeknya bergumam soal menutup jalan masuk dan meninggalkannya seorang diri, menikmati keindahan kuil tua itu.

Saat kembali kakek Gordon mengeluarkan tiga buah piringan perak setebal dua inci dan meletakkannya di salah satu sudut ruangan. Di tangannya tergenggam sebuah benda bulat tipis kecil dengan sebuah tombol merah menonjol di tengahnyam saat kakek Gordon menekannya, mendadak ketiga piringan perak itu mendesis dan meledak, detik berikutnya Zerb melihat tiga buah tangki raksasa, atau begitu kira-kira sebutannya, berdiri dimana ketiga piringan tadi berada. Tangki-tangki itu tentu saja berisi air, bahan makanan dan peralatan yang mereka butuhkan selama berada di dalam kul, karena menurut kakek Gordon mereka baru akan keluar dari tempart itu paling cepat dua bulan.

Dan perkiraan kakek Gordon tidak salah, menurut perhitungan Zerb, mereka berada di dalam kuil itu kira-kira sembilan minggu sebelum akhirnya keluar ke permukaan membaw ahasil yang lumayan. Yah, dalam waktu yang 'sesingkat' itu, mereka hampir berhasil memecahkan semua rahasia yang tertulis, tergambar dan ter-'bentuk' dalam kuil Dewa Iblis itu. Masih hampir, karena menurut kakek ada satu bagian kecil yang beum bisa dimengertinya, tapi itu sudah cukup sehingga kakek Gordon memutuskan sudah saatnya pulang dan menyelesaikan semuanya di rumah.

Tapi begitu muncul di permukaan mereka mendapat ucapan seamat datang yang tak diduga-duga. Sebuah mantera, yang berasal dari tongkat penyihir ras Wandius, telak mengenai jantung kakek Gordon yang seketka itu limbung. Zerb begitu shock, terlebih saat dia mengetahui kakeknya telah tewas setelah memeriksa denyut nadinya. Tubuhnya bergetar hebat, dia merasa sangat ketakutan sekaligus marah. Dia ingin bangkit, menghabisi ketiga penyihir yang baru saja merenggut nyawa kakeknya, "nyawanya". Tapi tubuhnya tidak mau menuruti kehendaknya, entah karena rasa marah bercampur takut yang membuat badannya menggigil hebat, atau karena kekuatan dari luar yang menahan tubuhnya agar tetap diam di tempat.

Sumpah serapah meluncur begitu deras dari mulutnya saat salah seorang penyihir itu memeriksa tubuh kakek Gordon dan menyeringai saat mengeluarkan sebuah piringan hitam tipis dai dalam jubah kakek. Piringan itu berisi semua kerja keras mereka berdua selama dua bulan lebih, dan itu barang paling berharga bagi Zerb, setelah kini kakeknya tiada, menyusul kedua orang tuanya. Dia meraung dan bangkit siap menyerang. Tapi satu sentakan kecil tongkat penyihir ras Wandius yang hanya sepanjang sepuluh inci itu menghempaskan tubuh Zerb begitu kuat dan jatuh cukup jauh dan keras.

Hal terakhir yang diingatnya sebelum kehilangan kesadaran adalah kelebatan jubah ketiga penyhir sialan itu berputar-utar di kepalanya. Dan begitu bangun dia sudah berada di sebuah gua yang kering dan panas, seorang pria, atau remaja, duduk di sampingnya sambil memainkan api unggun dengan jemarinya, yang anehnya tidak tampak terluka sedikitpun. Entah itu khayalan atau tidak Zerb tidak terlalu peduli, yang terpenting sekarang adalah megejar para penjahat itu dan merebut kembali piringan hitam yang mereka curi dari kakeknya.


Bookmark and Share


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.